Laman

Minggu, 21 Maret 2010

INTEGRITAS DAN KOMITMEN MENANGGULANGI HIV DAN AIDS DI PAPUA

INTEGRITAS DAN KOMITMEN MENANGGULANGI

HIV DAN AIDS DI PAPUA

”Satu kata dan tindakan” merupakan hal yang utama dalam integritas. Bagaimana apa yang menjadi kata-kata kita diwujudkan dalam tindakan kita. Ada 3 hal utama dalam integritas yaitu ketulusan, kejujuran, dan keterbukaan. Seorang pemimpin harus memiliki integritas karena hal ini merupakan kekuatan bagi seorang pemimpin. Setelah memiliki integritas, seorang pemimpin harus dapat memelihara integritas yang telah dimiliki. Memelihara integritas dapat dilakukan dengan peduli pada hal-hal kecil, hidup bersama, jujur & rendah hati, dan kerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh dan sukacita.

Untuk mencapai integritas diperlukan komitmen! komitmen untuk berani berkata ya! Bagaimana kisah Yunus dalam cerita Alkitab saat hari pertama Tuhan memerintahkan untuk pergi ke kota Niniwe kota terbesar dalam cerita Alkitab, ia diutus untuk memperingatkan kepada orang di kota Niniwe agar mereka hentikan kegiatan-kegiatan yang tidak berkenan dihadapan Tuhan, seperti tidak dekat dengan Tuhan, agar mereka dekat kepada Tuhan, minum mabuk, agar mereka tidak minum mabuk, free sex, agar mereka tidak melakukan Free sex, saling membunuh, agar tidak saling membunuh, kriminalitas tinggi, agar tidak melakukan kriminalitas, berjudian, agar tidak berjudi, hidup dalam kebohongan, supaya tidak berbohong, munafik, supaya tidak munafik, jadikan tempat mereka sarang penyamun, dan agar supaya mereka tidak jadikan tempat mereka tempat penyamun, ia berani berkata ya, tetapi sayangnya kurang bersungguh-sungguh, sehingga ya dengan sungguh-sungguh sangat diperlukan.

Kalau kita melihat bahwa dari kriteria pemimpin sebagian besar menjadi seorang pelayan, hal ini sangat baik karena apa yang saya inginkan menjadi seorang pelayan bukan menjadi seorang bos. Dari cerita Alkitab diatas menunjukan bahwa bagaiman komitmen dan janji Yunus kepada Tuhan bahwa saya akan berangkat ke kota yang Tuhan tunjukan buat Yunus, namun ketika dalam perjalanannya Yunus mengalihkan perjalanannya ke tempat yang lain (melarikan diri dari tanggung jawabnya) dia diberi kepercayaan namun kepercayaannya di salahgunakan.

Dari cerita diatas jelaslah bahwa gambaran umum yang terjadi di Papua ini hampir sama persis, pulau yang penuh kaya raya akan susu dan madu, emas, perak, dan lain sebagainya, banyak bangsa-bangsa lain sedang melirik ke Papua karena kekayaan alamnya itu.

Dan disana akan dibanjiri begitu banyak orang karena globalisasi, dan arus berdagangan bebas yang memaksa orang untuk bertahan dan bekerja keras untuk hidup. sudah mulai terbuka, kota mulai ramai dan orang lupa akan Tuhan, karena menyibukan diri dengan berbagai aktivitas yang tidak bisa ditinggal itu.

Bagaimana masyarakat Papua menghadapi globalisasi seperti ini, hal ini menjadi tugas kita bersama untuk melihat. Terlebih khusus lagi para pemerintah daerah bagaimana mempersiapkan putra-putri bangsa Papua untu mempersiapkan masa depan Papua yang lebih baik dan handal untuk menyeimbangi era globalisasi ini. Dan juga para tokoh agama untuk penyadaran kepada putra-putri Papua, mentalitas spritual yang lebih kepada hal rohani agar ada kesimabnagan dalam pekerjaan.

Orang menanyakan Kita apakah ada yang bisa mengaku ganteng atau jelek, bagaimana kita menunjukkan diri kita bukan. Kita bertanya pada orang apakah tadi sebelum ke tempat kegiatan sudah mandi dan juga proses selanjutnya, kenapa semuanya harus dilakukan (kenapa ingin jadi rapi?) supaya orang lain lihat, jadi bukan karena diri sendiri tetapi lebih kepada perhatian orang lain.

Mengembangan semua potensi yang ada. Karakter adalah kita melalukan karena hati nurani bukan karena orang lain, padahal kita bebas unutk melakukan apapun tanpa orang lain. Anugerah Tuhan adalah kebebasan tetapi jarang kita gunakan unutk diri kita tetapi lebih pada apa kata orang. Diri kita sendiri sudah menjadi contoh bagi orang lain. Pemimpin transformasioanal adala untuk membentuk pemimpin baru.

Pendekatan yang digunakan adalah Dari Dalam Ke Luar, semua kita adalah pemimpin karena ada di dalam diri kita semua karakter yang dapat digunakan. Kalau mau memimpin orang lain hendaklah kita memulai dari diri kita sendiri baru ke orang lain.

Orang lain akan menanyakan kepada kita siapakah kamu, ada yang mengatakan humoris, suka senyum, tenang, tapi itu semuanya kebaikannya karena saya orang yang pemalu, tidak murah senyum. Kita semua bisa berubah kalau kita mau. Kalau kita bisa mengembangkan diri kita, maka dengan sendirinya orang lain dapat mengikutnya.

Ada seorang petani pergi ke hutan dan diatas gunung yang tinggi ia mendapat telur burung rajawali, kebetulan dirumahnya ada ayam yang mengerang dan ditaruh juga di sana dan menetas serta hidup bersama-sama. Waktu burung elang mau menerkam anak ayam lalu induk ayam memberikan sirene untuk melindungi anaknya. Dari cerita apa yang kita tangkap, kita dari kecil sudah dididik dalam lingkungan yang menghambat potensi kita (contoh cara mendidik anak). Setelah kita tahu hendaknya kita bisa melakukan itu kepada orang lain, kita rajawali tetapi kita sering menjadi ayam.

Kita kadang hidup dalam topeng-topeng sosial, semua yang akan kita lakukan seringkali karena apa yang diinginkan oleh orang lain, bukan karena apa yang kita ingin lakukan. Kita harus berlatih untuk menjadi diri kita sendiri dan melepaskan topeng-topeng sosial tersebut (style). Kalau kita tidak yakin dengan apa yang hendak kita lakukan maka janganlah kita melakukan hal tersebut jadi kita hendaknya mempunyai prinsip dalam hidup.

Di Papua kita diberhadapkan dengan berbagai masalah, masalah politi, ekonomi, hukum, budaya. Satatus sosial, kesehatan, yang paling gencer-gencernya diberitakan lewat media elektronik, media massa, Koran kompas, cepos, dan lain sebagainya tentang HIV/AIDS. Penyakit menular seksual terus menyebar dan tak mungkin dicegah tanpa mengubah perilaku. Penularan virus mematikan yang dikenal sebagai Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immuno-Deficiency Syndrome (AIDS) terus menggiring manusia ke pintu maut.

Data terbaru kasus HIV dan AIDS di Papua menyebutkan hingga tanggal 31 Desember 2004 terdapat 1749 kasus, namun dalam jangka waktu tiga bulan yakni pada bulan Maret 2005 angka tersebut bertambah 125 kasus menjadi 1874 kasus yang terdiri dari 1.131 kasus HIV dan 743 kasus AIDS (Sumber : Dinas kesehatan propinsi Papua 31 Maret 2005).

Angka tersebut tentulah sangat tinggi dibandingkan dengan jumlah penduduk Papua yang sekitar 2,5 juta jiwa dan diperkirakan saat ini sekitar 14.000 orang di Papua telah terinfeksi HIV. (Sumber: kompas 16 mei 2005)

Kasus HIV dan AIDS di Papua tidak hanya ditemukan dikelompok Wanita Pekerja Seks (WPS), tetapi lebih dari itu adalah ibu rumah tangga dan anak-anak usia dibawah lima tahun, mereka tertular melalui suami yang melakukan hubungan seksual diluar.

Tahun 2002 kelompok ibu rumah tangga yang mengidap HIV dan AIDS sebesar 23 %, sementara PSK hanya 13 %, tahun 2003 ibu rumah tangga 23 %, sementara PSK hanya 11 %, tahun 2004 kelompok ibu rumah tangga 19 % dan PSK hanya 9 %. Kecenderungan penyebaran virus HIV dan AIDS di kalangan ibu rumah tangga terus meningkat setiap tahun. Melihat semakin besar kelompok ibu rumah tangga terinfeksi virus HIV danAIDS adalah pasangan usia subur sehingga virus itu dengan mudah tertular kepada anak yang dilahirkan dari pasangan itu. Kondisi seperti ini akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan populasi penduduk Papua dalam jangka waktu 10 – 30 tahun ke depan.

Sampai bulan Mei 2004, anak-anak dibawah usia lima tahun yang terinfeksi virus HIV dan AIDS sebanyak 33 orang. Data ini akan terus bertambah, dan satu saat banyak generasi muda Papua positip mengidap virus berbahaya itu.(Sumber: kompas, 21 juni 2005). Jumlah kasus HIV dan AIDS data terakhir per 30 Juni 2005 jumlahnya mencapai 1910 kasus, 1133 mengidap HIV dan 777 mengidap AIDS.

Dari 1910 kasus, sebanyak 74 persen penderita adalah etnis Papua, sekitar 1.413 orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) (Sumber : Kompas, 30 juni 2005)

IDS.

Fenomena HIV AIDS diatas ini memberikan gambaran kepada kita bahwa tahun sebelumnya STHP 2006 mencapai angka sedimikian pesat, belum lagi STHP tahun-tahun berikutnya. Prevalensi HIV AIDS naik atau turun angkanya tergantung perilaku orang manusianya itu.

Orang akan melihat HIV AIDS dengan berbagai sudut pandang, dengan penafsiran yang berbeda-beda. Orang dilingkungan Gereja menyatakan hal itu sebagai kutukan Tuhan karena orang berperilaku tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Orang politik mengatakan hal itu pembunuhan karakter orang atau itu hanya penyakit orang luar. Jadi HIV AIDS tidak hanya masalah kesehatan saja tapi tidak juga terlepas dari budaya, politik, ekonomi, hukum, agama, di Papua.

Terlepas dari berbagai sudut pandang diatas, kalau kita mencermati secara baik bahwa HIV AIDS adalah nyata yang sudah terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi, kapan dan dimana pun, dan penyakit ini tidak mengenal status sosial, ketika pola pengetahuan kita minim akan kesehatan, hal ini akan berlanjut terus, sikap dan perilaku kita dalam lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat tidak terjaga dengan baik hal ini juga akan berlanjut. Jadi yang kita bicara adalah yang ada didepan kita yang nyata ini, jangan kita berbicara yang tidak nyata. Kita berbicara apa yang kita lihat didepan mata kita akan kita tahu persoalan yang sebenar-benarnya yang kita ingin tahu.

Lingkungan

Lingkungan adalah pola sikap kita diterima atau tidak, entah itu hal yang baik atau buruk, pada dasarnya dalam diri seseorang ada faktor tidak keberuntungan, ada ketidak keberhasilan, ada keberuntungan, ada kekecewaan dan juga ada kesenangan. Yang melekat dan terus berpengaruh sepanjang hidup individu atau dalam masyarakat. Secara gampang disebut faktor sosial. Faktor yang mempengaruhi ini baru di ketahui ketika yang bersangkutan telah ada dimana di lingkungan baru, dilingkungan kampus, masyarakat dan dimana lingkungan sesorang itu berada, namun perlu ada pemahaman, untuk baik memerlukan perjuangan. karena didalam baik itu, ada sifat yang menuntun seseorang untuk lebih cerdas dalam berpikir dan berperilaku, di lingkungan dimana individu atau kelompok itu berada.

Sering kali menghadapi masalah yang membuat kesal, jengkel, terpancing untuk berada dalam kobaran emosi dan amarah disuatu lingkungan yang berbeda. Kebencian hal manusiawi sekali. Dalam siklus yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat, kebencian adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia, namun untuk menghindar dari kebencian, baik membenci atau dibenci adalah sebuah tantangan yang setiap manusia bisa mengatasinya.

Manager Program Yayasan Kita (Yakita) Papua, Ratih Eka Pratiwi mengaku, faktor utama penularan HIV di Papua adalah perilaku seksual bebas yang pada umumnya dipicu penggunaan narkoba dan konsumsi alkohol. "Penularan melalui hubungan seksual saja mencapai angka 4.281 kasus dari keseluruhan angka HIV di Papua," tandasnya.

Selama ini, menurutnya, kampanye kondom yang tidak menegaskan bahwa hubungan seksual mutlak hanya boleh dilakukan dalam ikatan pernikahan, telah membentuk pandangan dan mengubah perasaan masyarakat menjadi permisif dan toleran terhadap perbuatan maksiat karena membuat masyarakat semakin berani melakukan perzinahan.
"Kampanye kondom tidak menyebutkan dengan tegas bahwa hubungan seksual mutlak hanya boleh dilakukan dalam ikatan pernikahan. Justru yang ditonjolkan adalah anjuran memakai kondom untuk seks yang aman," ujar pemerhati masalah sosial dan masyarakat, Lathifah Husna. Demikian pula halnya dengan strategi pananggulangan lainnya yang hingga kini tidak mampu menekan penularan HIV/AIDS seperti substitusi metadon (sintetis heroin atau morfin), legalisasi jarum suntik dan hidup sehat bersama Odha.
Menurut Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Papua, Rofiah Aulia, HIV/AIDS dapat dicegah dan ditangani dengan baik jika setiap mata rantai penularan penyakit tersebut benar-benar diputus. "Ada dua program yang dapat dilakukan untuk memutus rantai penularan HIV/AIDS agar tidak menyebar pada orang-orang yang sehat, yaitu dengan cara,preventif,dankuratif,".
Upaya preventif, katanya, adalah mengubah perilaku liberal atau bebas nilai agar sesuai dengan tuntunan agama sehingga penularan HIV/AIDS yang berkaitan erat dengan seks bebas serta penggunaan narkoba dan sejenisnya dapat dihilangkan.
Dia mengatakan, pencegahannya harus dengan menghilangkan segala bentuk praktik seks bebas beserta berbagai hal yang memfasilitasinya seperti media-media pornografi dan pornoaksi, prostitusi serta peredaran narkoba serta minuman beralkohol.
Selain itu, lanjut dia, untuk membentuk kehidupan sosial yang baik, pendidikan juga berperan melahirkan individu yang berkepribadian kuat, sehingga setiap perilaku didasarkan pada tuntunan ajaran agama. Sementara itu, katanya, kesejahteraan masyarakat juga harus dipenuhi agar tidak ada lagi pihak yang melakukan kemaksiatan seperti perzinahan dan lain sebagainya dengan alasan ekonomi atau kemiskinan.

Kasus HIV/AIDS yang angkanya semakin membengkak dari waktu ke waktu, menurut dia, juga dipengaruhi ketidaktegasan pemerintah untuk memberikan sanksi atas pelaku kemaksiatan seperti prostitusi dan para pemakai maupun pengedar narkoba. "Hukuman yang tidak tegas ini membuat pelaku kejahatan tidak jera untuk terus menerus melakukan hal yang sama, yang bisa menjerumuskan dirinya dan orang lain terkena HIV/AIDS. Harus ada sistem sanksi yang tegas dan memberikan efek pencegahan terhadaptindakkemaksiatan,".
Adapun solusi kuratif, tambahnya, adalah pengobatan yang sesuai dengan aturan agama yakni tidak menggunakan bahan-bahan seperti metadon yang zatnya tetap terkategori haram serta mendorong dan memfasilitasi penderita untuk semakin takwa.
Orang yang tertular HIV/AIDS karena efek spiral (tertular secara tidak langsung) misalnya karena transfusi darah, tertular dari pasangannya dan lain sebagainya, maka orangtersebutdikarantina.
Bertolak dari kenyataan tersebut, maka langkah bijaksana upaya penanggulangan yang paling efektif ialah melalui pendekatan moral kemanusiaan, yaitu secara kesadaran etis setiap orang berusaha menghindari perilaku yang dapat memungkinkan seseorang terkena infeksi HIV itu sendiri. Pola sikap tersebut hendaknya secara kuat untuk disadari dan ditunaikan secara konsisten masyarakat luas, lebih-lebih kalangan generasi muda yang rawan terhadap aspek tersebut. Perlu ada pemahaman baik dikalangan remaja dan masyarakat pada masyarakat pada umumnya karena perilaku resiko tinggi itu bukan didominasi gereja atau agama tertentu, karena perilaku beresiko, sikap, karekter dan pembawaan orang dalam lingkungan berbeda-beda pula dengan demikian perlu ada pemahaman yang baik pada setiap warga masyarakat.

Kamis, 12 November 2009

AKU DAN MEREKA DALAM LINGKUNGAN

AKU SUKA KETEMU KELOMPOK ORANG
Aku dan Mereka dalam lingkungan
A. Aku

Aku suka temu kelompok orang-orang dari gunung sampai pante, tetapi aku percaya aku sudah jumpa tiap-tiap orang penting diatas Bumi ini. Para teman-teman ku adalah orang-orang yang penting dan aku mencintai semuanya, sebab mereka adalah pendukungku dan tanpa mereka aku tidak akan jadilah seperti aku hari ini. Aku melihat mereka sebagai mahluk social yang ada di muka bumi Cenderawasih.
Masing-Masing dan tiap-tiap orang yang aku mengetahui adalah berbeda dan bahwa apa yang membuat semua hubungan ku dengan para teman-teman ku yang khusus dan aku ingin mereka semua mengetahui bahwa aku sangat mempedulikan semuanya untuk mereka.
Aku bukan orang yang menunjukkan perasaan ku kepada yang paling penuh, tetapi aku akan tinggal setia bagi semua para teman-teman ku di bumi ini dan aku ingat bahwa aku memikirkannya mereka sehari-hari. Karena aku tiba di manapun di bumi cenderawasih ini (Papua) yang aku sudah jumpa beberapa orang-orang unik, tetapi tidak ada orang dapat menggantikan para teman-teman ku dan cinta pertama ku. Aku tidak genap harus menyebut yang manapun sebab mereka mengetahui, siapa mereka adalah: “ORANG-ORANG YANG PALING UTAMA MEMPERJUANGKAN KEBEBASAN ORANG PAPUA”. selanjutnya: HAMOP (Hak Asasi Manusia Orang Papua)
Sehari-hari Aku berkata Allah aku berlari ke seberang mereka sebab aku belajar berbagai hal untuk semua dari mereka, social, budaya, ekonomi, politik, pendidikan dan lain sebagainya. Banyak yang saya belajari dan banyak pula yang saya tidak mengerti, dalam ketidak mengertian itulah yang saya berpikir dengan pikiran yang emosional bahwa ada ketidak adilan yang terjadi di NEGERIKU PAPUA., baik didalam social, budaya, politik, ekonomi, pendidikan, dan lain sebagainya.
Dalam keadaan apapun kita, hari ini kita tahu bahwa banyak hal yang harus kita belajar, dan dengan keahlian apa yang dibutuhkan masa depan Papua kita tidak tahu. Namun satu hal yang utama adalah tetaplah belajar menguasai hal-hal baru, karena kita berada dalam suatu lingkungan dimana belajar terus seumur hidup adalah syarat untuk menang. sejauh kita memandang maka harus sejauh itulah kita harus memperlengkapi diri kita dengan berbagai pendidikan. Saat ini kita ditantang untuk belajar dan belajar sebab semakin kita tahu justru semakin banyak yang kita tidak tahu.

B. Lingkungan
Lingkungan adalah pola sikap kita diterima atau tidak, entah itu hal yang baik atau buruk, pada dasarnya dalam diri seseorang ada faktor tidak keberuntungan, ada ketidak keberhasilan, ada keberuntungan, ada kekecewaan dan juga ada kesenangan. Yang melekat dan terus berpengaruh sepanjang hidup individu atau dalam masyarakat. Secara gampang disebut faktor sosial. Faktor yang mempengaruhi ini baru di ketahui ketika yang bersangkutan telah ada dimana di lingkungan baru, di lingkungan kampus, masyarakat dan dimana lingkungan sesorang itu berada, namun perlu ada pemahaman, untuk baik memerlukan perjuangan. karena didalam baik itu, ada sifat yang menuntun seseorang untuk lebih cerdas dalam berpikir dan berperilaku, di lingkungan dimana individu atau kelompok itu berada.
Sering kali menghadapi masalah yang membuat kesal, jengkel, terpancing untuk berada dalam kobaran emosi dan amarah di suatu lingkungan yang perbeda. Kebencian hal manusiawi sekali. Dalam siklus yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat, kebencian adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia, namun untuk menghindar dari kebencian, baik membenci atau dibenci adalah sebuah tantangan yang setiap manusia bisa mengatasinya.
Dan aku tidak menyesali tidak ada yang terjadi diantara kita sebab aku mencintai orang Papua dan tanah ini dari Sorong sampai Merauke adalah milik orang Papua yang di karuniakan oleh TUHAN.

” Sukses adalah mendapatkan apa yang anda inginkan, Kebahagian adalah keinginan yang anda dapatkan” (Ingrid bergman. 1915-1982)